Jumat, 18 November 2011

IT company in Indonesia. Why?



Sebenernya sudah banyak yang mengemukakan hal seperti judul diatas. Mulai dari mereka yang masih terjun ke bisnis IT maupun yang sudah banting setir ke lini bisnis yang lain yang masih dekat dengan kata digital dan internet. 

Seminggu kemarin kelas saya didatangi oleh dosen tamu yang telah malang melintang di dunia e-commerce. Beliau salah satu dari founder www.gantibaju.com. Sebuah website e-commerce di bidang clothing namum memberikan mekanisme design yang unik. Design kaos-kaos yang berada pada web ini didatangkan dari para designer Indonesia yang meng-uploadkan karya mereka ke web tersebut. Web tersebut secara rutin mengadakan event-event lomba design yang awardnya adalah dipampangnya design mereka pada kaos yang akan diproduksi dalam jumlah terbatas, uang tunai, dan royalti sebesar 10% dari hasil penjualan. Yang menariknya lagi, design-design dari kaos tersebut harus bernuansakan dengan nasionalisme. Beliau bernama Aria Rajasa Masna (@rajasa).

Dia menceritakan pengalamannya dalam  membangun bisnis. Salah satunya adalah bisnis yang "core bussiness"-nya IT. Namun setelah kurang lebih setahun berjalan, akhirnya gagal juga. Akhirnya dia beralih ke industri kreatif dan e-commerce. Dan hasilnya adalah site  www.gantibaju.com tersebut sebagai  Pemenang International Young Creative Enterpreneur (IYCE) 2011.

Di Indonesia cukup banyak perusahaan-perusahaan IT dengan skala kecil sampai dengan menengah. Namun yang benar-benar besar dan bercita rasa Indonesia jarang ditemui. Ditempat saya bekerja sekarang pun sekarang demikian. Kira-kira kenapa ya IT company di Indonesia jarang ada yang benar-benar besar seperti di Tokyo atau Silicon Valley. Kebanyakan bertebaran dalam lini-lini yang kecil. Jika saya boleh berpendapat sebagai orang awam mungkin point-pointnya adalah:

1. Tidak berfokus pada pengembangan produk. Ya, kebanyakan IT company di Indonesia adalah konsultan yang menyediakan jasa pengembangan teknologi pada client yang artinya hanya penyedia jasa. Produk teknologi yang dihasilkan sifatnya eksklusif untuk client tersebut. Sekali developt, sekali mengucur dana, setelah itu selesai. Tidak ada proses duplikasi profit disini. Saya ambil pembanding aplikasi ERP SAP. Perusahaan cukup membuat satu produk yang "serius" yang di maintenance secara terus-menerus. Client/konsumen dari mana saja pun bisa memakai aplikasi yang sama tanpa harus developt ulang. Ya, memang untuk membuat produk tidaklah mudah. Harus ada dana besar di awal untuk R&D serta uji pasar. 

2. SDM yang minim (kuantitas maupun kualitas). Banyak universitas/tempat pendidikan yang bergenre "Teknologi". Namun  anehnya cukup sulit untuk mencari SDM yang sesuai dengan requirement industri saat ini. Kalau pun ada, dari segi skill dan attitude dipertanyakan. (statement ini membuat saya berkaca terhadap diri sendiri..hehe )

3. Menjadi ilmuwan adalah cara buruk dalam mencari uang (hal khusus di Indonesia). Pemicu terbesar dalam inovasi teknologi adalah hadirnya para ilmuwan-ilmuwan yang terus bekerja siang dan malam untuk wajah dunia yang lebih baik. Para ilmuwan tersebut mendermakan seluruh hidupnya untuk hal tersebut, sehingga hal logis jika mereka didanai besar untuk object penelitiannya (dalam hal ini pemerintah harus berperan). Di Novel Dan Brown yang Deception Point pun disebutkan bahwa organisasi luar angkasa NASA  adalah organisasi yang boros dalam membebani APBN Amerika. Bagaimana dengan Indonesia? heeem.. Banyak para rocket-scientist kebanggaan tersebut yang minggat dari sini untuk membangun karir dan melakukan penelitian di luar. 

Saya cukupkan sampai 3 point diatas, walau sebenarnya masih banyak lagi yang lainnya. Dan yang terpenting sekarang, sebagai seorang praktisi teknologi mari kita sama-sama mencari solusinya. Demi wajah bumi pertiwi yang lebih baik dan sejajar di mata bangsa-bangsa lain. Untuk point diatas, ada yang mau menambahkan???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar