Kamis, 12 Januari 2012

where my masterpiece?


Hari rabu kemarin lagi baca-baca buku programming yang judulnya Extjs in Action. Karena baru mulai baca bukunya jadi saya sempet-sempetin baca kata pengantar dari penulisnya. Di kata pengantar tersebut disebutin bahwa waktu pengerjaan buku tersebut dimulai dari tahun 2006 dan selesai pada tahun 2008. Itu berarti penulis menghabiskan waktunya selama 2 tahun untuk menyelesaikan buku tersebut. Hal itulah yang kemudian membuat saya kagum sekaligus bertanya-tanya, terhadap teknologi yang berubah-ubah pun seseorang mau menulis dan membagikan ilmu yang telah dimilikinya.
Untuk sekedar tahu, Extjs merupakan framework javascript yang dikembangkan oleh perusahaan di California, websitenya bisa dikunjungi di sencha.com. Dan sekarang (2012) pengembangan extJS telah mencapai versi ke 4.0. Sedangkan di dalam buku tersebut yang ditulis oleh J. Gracia -nama penulisnya- tersebut adalah extJS 3.0. Ini berarti penulisan buku selama 2 tahun tersebut kalah cepat dengan pengembangan platform teknologinya, itu artinya buku tersebut akan cepat kadaluarsa seiring dengan perkembangan Extjs itu sendiri.
Yang saya suka dari buku-buku luar adalah sangat sedikit buku-buku teknologi yang halamannya berada di bawah 500 halaman. Semuanya rata-rata lebih dari 500 halaman, itu artinya apa yang dibahas di dalam buku tersebut sangat dalam dan lugas. Tidak ada hal yang setengah- setengah di dalam buku tersebut. Jadi wajar saja, jika untuk satu buah tema buku saja membutuhkan waktu selama 2 tahun pengerjaan. Kalau kita lihat, sangat berbanding terbalik dengan buku-buku teknologi di Indonesia. Buku-bukunya sangat tipis dan harganya dipatok 50 ribu ke atas. Dan hal-hal yang dikupas pun cuma kulitnya saja, tidak lugas dan mendalam.
Menurut pandangan saya hal itulah yang menjadi salah satu kedala mengapa IT di Indonesia tidak semaju diluar, karena ilmu hanya berputar-putar di kepala orang yang memahami. Tidak ada transfer ilmu yang signifikan dalam bentuk buku-buku yang bagus. Jika pun ingin melahap buku-buku luar, banyak dari orang-orang kita yang terkendala dengan bahasa Inggris. Belum lagi tentang minat belajar yang rendah.
Kembali lagi ke topik, J. Gracia menulis buku Extjs in Action  yang cepat kadaluarsa itu dalam waktu 2 tahun, Acoustic Alchemy (Nama grup musik kegemaran saya) menghabiskan waktu selama 20 tahun untuk menciptakan 17 Album yang luar biasa. Candi Borobudur pun dibangun dalam waktu setengah abad. Belum lagi para perawi hadist muttafaqun alaih yang mendermakan seluruh hidupnya untuk mengumpulkan hadist-hadist Nabi, dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Where my masterpiece? Dan saya bertanya dalam hati, akan saya pakai untuk apa umur saya yang sebentar ini? Apa yang harus dikaryakan? Produk aplikasi Sistem Informasi yang bisa dijual secara internasional? Buku-buku puisi dan cerpen yang karyanya bisa dijadikan bahan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia anak SD sampai SMA di negeri ini? Album akustik seperti yang dibuat oleh Acoustic Alchemy? Hah, tampaknya kita harus fokus dan tangga-tangga pencapaian menanti di depan mata. Sejarah telah menceritakan dirinya sendiri, Kehidupan yang mempesona adalah untuk mereka yang memiliki impian!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar