Jumat, 25 Mei 2012

Challenge + Appreciation. Key for making an addictive apps.

Apa yang anda rasakan ketika anda telah mengikuti suatu ujian test tertulis. Tapi di awal diberitahukan bahwa ujian tersebut bukan untuk mengukur apa-apa, ujian tersebut tidak akan mengeluarkan nilai yang menjadi barometer kepahaman anda tentang sesuatu. Intinya ujian tersebut tidak ada tujuannya, tidak mengeluarkan nilai apa-apa, dan tidak berarti apa-apa setelah anda menyelesaikannya. Apa perasaan anda? Ada perasaan aneh bukan? Ada perasaan sia-sia. Dan jika tetap disuruh mengerjakan ujian tersebut, bisa saya tebak, anda akan mengerjakannya secara asal-asalan, tidak antusias, dan malas-malasan. Mengapa? Karena anda membutuhkan appreciation setelah anda melakukan challenge. Tantangan tanpa apresiasi akan hambar, tanpa gairah, tanpa antusiasme. 

Begitulah sifat dasar manusia. Dalam teori motivasi, Maslow menempatkan kebutuhan penghargaan pada urutan ke empat. Teori XY dari Douglas McGregor mengatakan, untuk manusia bertipe Y, pendekatan yang seharusnya dilakukan adalah dengan memberikan challenge  dan appreciation yang seimbang. Lalu apa hubungannya dengan membuat aplikasi? Mungkin itu pertanyaan yang ada dalam benak anda sekarang.

Saya sudah menyukai video game sejak kecil. Console pertama saya adalah SEGA Mega Drive 32 Bit. Bersama teman sepermainan saya suka berlomba-lomba dalam mengumpulkan score permainan dan memamer-mamerkannya kepada yang lain. Dan itulah kunci yang membuat kami jadi candu terhadap games kala itu, ingin memainkannya lagi dan lagi. Video games berinteraksi dengan kita, bahwa disetiap level yang semakin sulit akan ada "hadiah" yang semakin menarik pula. 

Kita lihat game-game populer saat ini, Angry Birds misalnya. Score dihitung dengan bintang, jika 3 bintang bersinar, berarti kita telah melewati hal tersebut dengan sempurna. Banyak juga benda-benda dan level-level tersembunyi yang membuat kita penasaran ingin menguaknya. Jangan ragu untuk submit high score anda untuk diketahui oleh semua orang. 

Bulan Desember 2011 kemarin saat saya posting tulisan di blog wordpress. Muncul notifikasi seperti ini: 

Penambahan yang terlihat sederhana, namun sentuhan yang dibuat wordpress ini cukup memotivasi kita untuk lebih sering lagi menulis.  

Kemudian saya juga baru mencoba web yang sangat menarik. Beralamat di codecademy.com. Dan saya sangat kagum, web ini berhasil mengubah paradigma coding yang sulit dan membosankan menjadi sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Interaktivitas yang dibangun dalam web ini membuat kita ingin terus menyelesaikan semua course yang ada. Dengan mekanisme point dan achievement kita bisa melihat perkembangan belajar kita. Disini konsep challenge + appreciation memainkan perannya. 



Kisah sukses aplikasi bernama Instagram juga secara tidak langsung menerapkan konsep ini. Orang memilih filter, memfoto objek, kemudian mempublishnya dalam jejaring sosial. Tujuannya apa? Apalagi kalau bukan appresiasi. Dan hal itu yang membuat para penggunanya pun ketagihan menggunakan aplikasi ini. Agak keluar topik sebentar, artikel ini sangat menarik untuk dibaca:
  1. instagrams ceo had no formal programming training hes a marketer who learned to code by night. (Tidak memiliki basic Computer Enginerring, belajar otodidak, namun bisa membuat aplikasi keren.)
  2. Sorry, But the Lesson of Instagram Is Not: Teach Yourself to Code and You, Too, Can Get $400 M. (Memang tidak hanya kemampuan programming, kemampuan marketing juga sangat berpengaruh besar dalam cerita kesuksesan Instagram.)
Itulah sekilas tentang challenge and appreciation. Konsep yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari - hari maupun dalam sebuah aplikasi. Pada setiap tantangan yang datang kepada anda, jangan lupa untuk selalu mengapresiasinya. :)